Sujiwo Tejo: Perang Modern Hanyalah Pesta Kembang Api Pengecut
Sujiwo Tejo melontarkan pernyataan yang mengguncang. Kemudian, budayawan multitalenta itu menyebut konflik bersenjata masa kini hanya sebagai pesta kembang api. Lebih jauh, ia menambahkan cap pengecut pada pelakunya. Ungkapan ini tentu saja bukan sekadar metafora kosong. Sebaliknya, pernyataan tersebut menusuk langsung ke jantung paradigma perang abad ke-21.
Sujiwo Tejo Membongkar Ilusi Keberanian di Era Digital
Pertama-tama, Sujiwo Tejo mengajak kita merefleksikan makna keberanian. Dulu, prajurit berhadapan langsung dengan lawan di medan laga. Mereka melihat putih mata musuh dan merasakan tarikan napasnya. Namun, kondisi sekarang berubah total. Selanjutnya, perang justru berlangsung dari balik layar monitor dalam ruangan ber-AC. Operator drone hanya menekan tombol dari ribuan kilometer jauhnya. Akibatnya, tidak ada lagi kontak manusiawi yang mempertaruhkan nyawa secara frontal.
Oleh karena itu, sang budayawan melihatnya sebagai bentuk pengecutan terselubung. Teknologi memang meminimalisir korban di satu sisi. Akan tetapi, di sisi lain, teknologi juga menghilangkan beban moral dan trauma langsung. Dengan kata lain, membunuh menjadi semudah bermain game. Maka dari itu, Sujiwo Tejo menyamakannya dengan pesta kembang api; spektakuler, berisik, menghancurkan, namun dilakukan dari jarak aman tanpa risiko nyata bagi sang penembak.
Dari Jarak Aman Menuju Dehumanisasi Massal
Sujiwo Tejo juga menyoroti proses dehumanisasi yang terjadi. Perang konvensional masih mengakui musuh sebagai manusia. Sebaliknya, perang modern seringkile mereduksi musuh menjadi sekadar target atau blip di radar. Selain itu, propaganda media memperkuat narasi ini dengan menyebut korban sebagai collateral damage. Alhasil, masyarakat luas pun menerima kematian sebagai statistik belaka.
Lebih lanjut, fenomena ini menurutnya melahirkan generasi pengecut baru. Mereka adalah pemimpin yang berani memerintah serangan tanpa pernah menyentuh tanah perang. Mereka adalah publik yang mendukung perang tanpa pernah mencium bau mesiu. Singkatnya, semua pihak merasa aman dan benar. Padahal, di tempat lain, ledakan terus menggema dan nyawa melayang sia-sia.
Kritik Sujiwo Tejo dalam Lensa Sejarah dan Filsafat
Sebagai seorang yang mendalami kearifan tradisi dan filsafat, sudut pandang Sujiwo Tejo sangatlah mendalam. Ia menarik benang merah dari epik Mahabharata hingga perang di Gaza. Epik kuno mengajarkan bahwa perang, seburuk apapun, memiliki tata krama dan pengakuan atas kemanusiaan lawan. Misalnya, perang tidak boleh terjadi pada malam hari atau menargetkan yang tidak bersenjata.
Sebaliknya, aturan itu kini nyaris punah. Teknologi memungkinkan serangan 24 jam tanpa henti. Kemudian, algoritma intelijen seringkali salah menentukan target. Akibatnya, anak-anak, perempuan, dan warga sipil menjadi korban utama. Dengan demikian, pernyataan pesta kembang api pengecut ini merupakan sindiran tajam atas hilangnya etika dalam pertempuran.
Respon Publik dan Kontemplasi Bersama
Reaksi atas pernyataan Sujiwo Tejo ini sangat beragam. Di satu sisi, banyak kalangan militer dan politikus menyangkal dengan keras. Mereka berargumen bahwa teknologi justru membuat perang lebih presisi dan minim korban. Di sisi lain, para aktivis perdamaian dan pemikir justru memberikan apresiasi. Mereka melihatnya sebagai kritik budaya yang sangat diperlukan di era milenial ini.
Selanjutnya, kita perlu merenungkan pertanyaan mendasar yang diajukan Tejo. Apakah kita sebagai peradaban menjadi semakin pengecut? Apakah kita menyembunyikan kekerasan di balik kemajuan teknologi? Oleh karena itu, dialog ini harus terus berlanjut. Masyarakat tidak boleh menerima perang sebagai sesuatu yang normal dan steril.
Mencari Makna Keberanian Sejati di Tengah Bising Kembang Api
Sujiwo Tejo pada akhirnya mengajak kita kembali ke hakikat keberanian. Keberanian sejati bukanlah tentang menghancurkan dari kejauhan. Justru, keberanian sejati adalah keberanian untuk berdamai, berdiplomasi, dan mengakui kesalahan. Lebih sulit lagi, keberanian sejati adalah melawan narasi kebencian yang memicu konflik sejak awal.
Dengan demikian, perang modern mungkin terlihat seperti pesta kembang api yang megah. Akan tetapi, di balik cahaya dan suara ledakannya, tersimpan kepengecutan kolektif sebuah peradaban. Kepengecutan untuk berhadapan langsung dengan konsekuensi dari tindakan sendiri. Kepengecutan untuk melihat penderitaan yang ditimbulkan secara langsung. Maka, pesan Sujiwo Tejo ini merupakan wejangan keras; sebuah seruan untuk bangkit dari ilusi dan kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
Sebagai penutup, kita perlu menyimpan kritik pedas ini dalam hati. Setiap kali kita melihat berita tentang serangan drone atau perang cyber, ingatlah kata-kata sang budayawan. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini keberanian, atau hanya bentuk lain dari pesta kembang api para pengecut? Refleksi ini, meski pahit, sangatlah penting untuk membangun masa depan yang lebih berani dan manusiawi.
Baca Juga:
Teuku Ryan Ungkap Rindu Mendalam untuk Moana